Tampilkan postingan dengan label Filsafat Ilmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat Ilmu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Desember 2016

Macam-macam Kritik Menurut Immanuel Kant

Macam-macam Kritik Menurut Immanuel Kant

a.  Kritik Atas Rasio Murni
Dalam kritik ini, atara lain kant menjelaskan bahwa ciri pengetahuan adalah bersifat umum, mutlak dan memberi pengertian baru. Untuk itu ia terlebih dulu membedakan adanya tiga macam putusan, yaitu:Putusan analitis apriori; dimana predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek,  karena sudah termuat di dalamnya (msialnya, setiap benda menempati ruang).
Putusan sintesis aposteriori, misalnya pernyataan “meja itu bagus” di sini predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi, karena dinyatakan setelah (=post, bhs latin) mempunyai pengalaman dengan aneka ragam meja yang pernah diketahui. Putusan sintesis apriori; disini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang kendati bersifat sintetis, namun bersifat apriori juga.  manusia mempunyai tiga tingkatan pengetahuan, yaitu:

Taraf indra
            Pendirian tentang pengenalan inderawi ini mempunyai implikasi yang penting. Memang ada suatu realitas, terlepas dari subjek, Kant berkata: memang ada das ding an sich (benda dalam dirinya; the thing itself). Tetapi das ding an sich selalu tinggal suatu X yang tidak dikenal. Kita hanya mengenal gejala-gejala (Erscheinungen), yang selalu merupakan sintesa antara hal-hal yang datang dari luar dengan bentuk ruang dan waktu.

Taraf akal budi
Kant membedakan akal budi Vesrtand dengan Vernunft. Tugas akal budi ialah menciptakan orde antara data-data inderawi. Dengan lain perkataan, akal budi menciptakan putusan-putusan. Pengenalan akal budi juga merupakan sintesa antara bentuk dengan materi. Materi adalah data-data inderawi dan bentuk adalah apriori, yang terdapat pada akal budi. Bentuk apriori ini dinamakan Kant dengan istilah “Kategori”. Akal budi memiliki struktur sedemikian rupa, sehingga terpaksa saya mesti memikirkan data-data inderawi sebagai subtansi  atau menurut ikatan sebab akibat atau menurut kategori lainnya. Dengan demikian, Kant sudah menjelaskan Shahihnya ilmu pengetahuan alam. Sekarang kita mengerti juga bahwa Kant betul-betul mengadakan suatu revolusi Kopernikan.

Taraf Rasio
Tugas rasio ialah menarik kesimpulan dari keputusan-keputusan. Dengan kata lain, rasio mengadakan argumentasi-argumentasi. Seperti akal budi menggabungkan data-data inderawi dengan mengadakan putusan-putusan. Kant memperlihatkan bahwa rasio membentuk argumentasi-argumentasi itu dipimpin oleh tiga ide : jiwa, dunia, dan Allah. Karena kategori akal budi hanya berlaku untuk pengalaman, kategori-kategori itu tidak dapat diterapkan pada ide-ide. Tetapi justru itulah yang di usahakan oleh metafisika. Uraian yang panjang lebar dikemukakan oleh kant untuk memperlihatkan kepada kita bahwa bukti-bukti untuk adanya Allah yang diberikan dalam filsafat bersifat kontradiktoris. Walaupun Kant sangat menagumi empirisme Hume, empirisme yang bersifat radikal dan yang konsekuen, ia tidak dapat menyetujui skeptisime yang dianut Hume dengan kesimpulannya bahwa dalam ilmu pengetahuan, kita tidak mampu mencapai kepastian. Pada waktu Kant hidup, sudah jelas bahwa ilmu pengetahuan dirumuskan Newton memperoleh sukses. Hukum-hukum ilmu pengetahuan berlaku selalu dan dimana-mana. Misalnya air mendidih pada 100 C selalu begitu dan begitu dan begitulah dimana-mana. Yang menjadi soal adalah, bagaimana hal itu mungkin terjadi? Syarat-syarat manakah yang harus terpenuhi untuk menjadikan ilmu pengetahuan alam dapat menghasilkan pengetahuan yang begitu mutlak dan perlu pasti? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, kant mengadakan suatu revolusi filsafat. Ia berkata bahwa ia mau mengusahakan suatu “Revolusi Kopernikan”, berarti suatu revolusi yang dapat dibandingkan dengan perubahan revolusioner yang dijadikan Copernicus dalam bidang astronomi.

         Dahulu para filsuf telah mencoba memahami pengenalan dengan mengandaikan bahwa si subjek mengarahkan diri kepada objek. Kant mengerti pengenalan dengan berpangkal  dari anggapan bahwa objek mengarahkan diri kepada subjek. Sebagaimana Copernicus   menetapkan bahwa bumi berputar sekitar matahari dan bukan sebaliknya, demikian pun kant memperlihatkan bahwa pengenalan berpusat pada subjek bukan objek. Mula-mula sains itu dibuktikan absolute bila dasarnya a priori; ia berhasil disini. Kemudian ia membatasi keabsolutan sains tersebut dengan mengatakan bawa sains itu naïf. Sains hanya mengetahui penampakan obyek. Bila sains maju selangkah lagi, ia akan terjerumus ke dalam antinomy. Jadi sains dapat dipegang, tetapi sebatas penampakan obyek. Dengan demikian, sains telah diselamatkan. Argumennya adalah bahwa sains dan akal tidak mampu menembus noumena, tidak mampu juga menembus obyek-obyek keyakinan. Obyek-obyek ini, yaitu obyek keyakinan, temasuk noumena yang lain, hanya diketahui dengan kala praktis. Jadi agama telah di selamatkan.

            Rasio  praktis adalah rasio yang mengatakan apa yang harus kita lakukan, atau dengan kata lain, rasio yang memberi perintah kepada kehendak kita. Kant memperlihatkan bahwa rasio praktis memberi perintah yang mutlak yang disebutnya sebagai imperatif  kategori.
Kant beranggapan bahwa ada tiga hal yang harus disadari sebaik-baiknya bahwa ketiga hal itu dibuktikan, hanya dituntut. Itulah sebabnya Kant menyebutnya ketiga postulat dari rasio praktis. Ketga postulat dimaksud itu ialah:
1.  Kebebasan kehendak
2. Inmoralitas jiwa, dan
3. Adanya Allah

Yang tidak dapat ditemui atas dasar rasio teoritis harus diandaikan atas dasar rasio praktis. Akan tetapi tentang kebebasan kehendak, immoralitas jiwa, dan adanya Allah, kita semua tidak mempunyai pengetahuan teoritas. Menerima ketiga postulat tersebut dinamakan Kant sebagai Glaube alias kepercayaan. Dengan demikian, Kant berusaha untuk memperteguh keyakinannya atas Yesus Kristus dengan penemuan filsafatnya. Serupa dengan filsuf  islam seperti ibn Rusyd yang berupaya menjadikan filsafat sebagai alat penguat keimanan sebagaimana yang tampak dalam kitabnya Fasl al-maqa’l fi masyarakat bayn al-hikmat wa al-shari’at min al-ittisal.

e.  Kritik Atas Daya Pertimbangan
            Kritik atas daya pertimbangan, dimaksudkan oleh Kant adalah mengerti persesuaian kedua kawasan itu. Hal itu terjadi dengan menggunakan konsep finalitas (tujuan). Finalitas bisa bersifat subjektif dan objektif. Kalau finalitas bersifat subjektif, manusia mengarahkan objek pada diri manusia sendiri. Inilah yang terjadi dalam pengalaman estetis (kesenian). Dengan finalitas yang bersifat objektif dimaksudkan keselarasan satu sama lain dari benda-benda alam.
Finalitas dalam alam itu diselidiki dalam bagian kedua, yaitu Der Theologischen Unteilskraft.
Adapun Inti dari Critique of  Judgment (Kritik atas pertimbangan) adalah sebagai berikut:
a.  Kritik atas pertimbangan menghubungkan diantara kehendak dan pemahaman.
b. Kehendak cernderung menuju yang baik, kebenaran adalah objek dari  pemahaman.
c.  Pertimbangan yang terlibat terletak diantara yang benar dan yang baik
d. Estetika adalah cirinya tidak teoritis maupun praktis, ini adalah gejala yang ada
    pada dasar subjektif.
e.Teologi adalah teori tentang fenomena, ini adalah bertujuan: (a) subjektif 
  (menciptakan kesenangan dan keselarasan) dan (b) objektif (menciptakan yang cocok 
   melalui akibat-akibat dari pengalaman).

     Kritisisme Immanuel Kant sebenarya telah memadukan dua pendekatan alam pencarian keberadaan sesuatu yang juga tentang kebenaran substanstial dari sesuatu itu. Kant seolah-olah mempertegas bahwa rasio tidak mutlak dapat menemukan kebenaran, karena rasio tidak membuktikan, demikian pula pengalaman, tidak dapat dijadikan tolok ukur, karena tidak semua pengalaman benar-benar nyata dan rasional, sebagaimana mimpi yang nyata tetapi “tidak real”, yang demikian sukar untuk dinyatakan sebagai kebenaran. Dengan pemahaman tersebut, rasionalisme dan empirisme harusnya bergabung agar melahirkan suatu paradigma baru bahwa kebenaran empiris harus rasional, sebagaimana kebenaran rasional harus empiris. Jika demikian, kemungkinan lahir aliran baru yakni rasionalisme empiris.




sumber :
Susanto, ahmad. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta : Bumi Aksara.
Yusuf, Akhyar dan Irawan. 2010. Filsafat Sosial. Tangerang selatan : Universitas terbuka

OBJEK KAJIAN FILSAFAT ILMU

OBJEK KAJIAN FILSAFAT ILMU

Setiap ilmu pengetahuan memiliki objek tertentu yang menjadi lapangan penyelidikan atau lapangan studinya. Objek ini diperoleh melalui pendekatan atau cara pandang, metode, dan sistem tertentu. Adanya objek menjadikan setiap ilmu pengetahuan berbeda antara satu dengan yang lainnya. Objek filsafat ilmu menurut Surajiyo (2007: 5), objek adalah sesuatu yang merupakan bahan dari suatu penelitian atau pembentukan pengetahuan. Menurut Noeng Muhadjir (2011: 9) objek studi filsafat ilmu dibagi menjadi dua :
1.  Objek material
Objek material filsafat ilmu overlap dengan semua ilmu, yaitu membahas fakta dan kebenaran semua disiplin ilmu, serta konfirmasi dan logika yang digunakan semua disiplin ilmu. Sedangkan menurut Arif Rohman, Rukiyati dan L. Andriani (2011 : 22) objek material suatu bahan yang berupa benda, barang, keadaan atau hal yang dikaji. Menurut Surajiyo (2007: 5), objek material adalah suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu. Objek material juga adalah hal yang diselidiki, dipandang, atau disorot oleh suatu disiplin ilmu. Objek material mencakup apa saja, baik hal-hal kongkret ataupun hal yang abstrak. Menurut Waryani Fajar Riyanto (2011 :20), objek materi adalah sasaran material suatu penyelidikan, pemikiran, atau penelitian keilmuan. Ia bisa berupa apa saja baik apakah benda-benda material atau benda-benda non material. Ia tidak terbatas pada apakah hanya di dalam kenyataan kongret seperti  manusia ataupun alam semetesta ataukah hanya di dalam realitas abstrak seperti Tuhan atau sesuatu yang bersifat ilahiah lainnya.

2.  Objek formal 
Objek formal filsafat ilmu adalah telaah filsafat tentang fakta dan kebenaran, serta telaah filsafati tentang konfirmasi dan logika. Fakta dan kebenaran menjadi objek formil substantif, sedangkan konfirmasi dan logika menjadi objek formil instrumentatif dalam studi filsafat ilmu. Sedangkan menurut Arif Rohman, Rukiyati dan L. Andriani (2011 : 22) objek formal adalah sosok objek material yang dilihat dan didekati dengan sudut pandang dan perspektif tertentu atau dalam istilah lain kemampuan berpikir manusia dalam memperoleh pengetahuan yang benar. Sementara objek formal menurut Waryani Fajar Riyanto (2011 :20) adalah cara pandang tertentu, atau sudut pandang tertentu yang dimiliki serta yang menentukan satu macam ilmu. Menurut Surajiyo (2007: 7), objek formal filsafat ilmu adalah sudut pandang yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut dari mana objek material itu disorot. Dalam pandangan The Liang Gie (2010: 139), obyek formal adalah pusat perhatian dalam penelaah ilmuwan terhadap fenomena itu. Penggabungan antara obyek material dan obyek formal sehingga merupakan pokok soal tertentu yang dibahas dalam pengetahuan ilmiah merupakan objek yang sebenarnya dari cabang ilmu yang bersangkutan.


PERBEDAAN OBJEK MATERIAL DAN OBJEK FORMAL FILSAFAT ILMU
Dari penjelasan di atas, dapat dijelaskan bahwa ada perbedaan antara objek material dan objek formal filsafat ilmu, antara lain :
Objek material filsafat merupakan suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu atau hal yang di selidiki, di pandang atau di sorot oleh suatu disiplin ilmu yang mencakup apa saja baik hal-hal yang konkrit ataupun yang abstrak.  Sedangkan Objek formal filsafat ilmu tidak terbatas pada apa yang mampu diindrawi saja, melainkan seluruh hakikat sesuatu baik yang nyata maupun yang abstrak.
·         Obyek material filsafat ilmu itu bersifat universal (umum), yaitu segala sesuatu yang ada (realita) sedangkan objek formal filsafat ilmu (pengetahuan ilmiah) itu bersifat khusus dan empiris. Objek material mempelajari secara langsung pekerjaan akal dan mengevaluasi hasil-hasil dari objek formal ilmu itu dan mengujinya dengan realisasi praktis yang sebenarnya.  Sedangkan Obyek formal filsafat ilmu menyelidiki segala sesuatu itu guna mengerti sedalam dalamnya, atau mengerti obyek material itu secara hakiki, mengerti kodrat segala sesuatu itu secara mendalam (to know the nature of everything). Obyek formal inilah sudut pandangan yang membedakan watak filsafat dengan pengetahuan, karena filsafat berusaha mengerti sesuatu sedalam dalamnya.


SUMBER :
Surajiyo. 2007. Ilmu Filsafat: Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara.
Waryani Fajar Riyanto. 2011. Filsafat Ilmu Topik-topik Estimologi. Yogyakarta:                     Integrasi Interrkoneksi Press.

Rabu, 21 Desember 2016

Riwayat Hidup Immanuel Kant

Riwayat Hidup Immanuel Kant
Immanuel Kant lahir di Konigserg, Prusia Timur, Jerman. Pikiran-pikiran dan tulisan-tulisannya yang sangat penting dan membawa revolusi yang jauh jangkauannya dalam filsafat modern. Ia terpengaruh oleh lahiran Piettisme dari ibunya, tetapi ia hidup dalam zaman SCEPTISM serta membaca karangan-karangan Voltaire dan Hume. Akibat dari itu semua ialah bahwa ia mempunyai problema : what can we know? (apa yang dapat kita ketahui?) what is nature and what are the limits of human knowledge? (apakah alam ini dan apakah batas-batas pengetahuan manusia itu?) sebagian besar hidupnya telah ia pergunakan untuk mempelajari logical process of thought (proses penalaran logis), the external world (dunia eksternal) dan the reality of things (realitas segala yang wujud).
Kehidupannya sebagai filsuf dibagi dalam dua periode :
Zaman pra-kritis dan zaman kritis. Pada zaman pra-kritis ia menganut pendirian rasionalis yang dilancarkan oleh wolff dkk. Tetapi, karena terpengaruh oleh Hume, berangsur-angsur kant meninggalkan rasionalisme. Ia sendiri mengatakan bahwa Hume itulah yang membangunkannya dari tidur dogmatisnya. Pada zaman kritisnya, kant merubah wajah filsafatinya secara radikal. Ia menanamkan filsafatnya sekaligus mempertanggungkannya dengan dogmatisme.
            Karyanya yang terkenal dan menampakkan kritisismenya, ialah kritik der reinen vernunft reason dan Critique of Pure Reason yang membicarakan tentang reason dan knowing process yang ditulisnya selama lima belas tahun. Buku ini amat terkenal di dunia filsafat. Dalam literatur bahasa indonesia biasanya disebut “kritik atas rasio praktis”. Buku kedua adalah Kritik der Practischen Vernunft (1781) atau biasa disebut Critique of Practical Reason alias Kritik atas rasio praktis yang menjelaskan filsafat moralnya. Ketiga, buku Kritik der Arteilskraft (1790) atau Critique of  judgement alias kritik atas daya pertimbangan.

SUMBER:
Susanto, ahmad. 2011. Filsafat Ilmu. Jakarta : Bumi Aksara

Selasa, 20 Desember 2016

Sejarah Filsafat Ilmu

SEJARAH  FILSAFAT  ILMU

Sejarah Filsafat  ilmu tidak terlepas  dari priodisasi sejarah terdahulu yaitu sejak dari cara  berpikir yang sangat   sederhana hingga cara berfikir modern  zaman kemajuan ilmu pengetahuan modern yang  dikelompokkan kedalam beberapa  masa  yaitu :
  1. Zaman  prasejarah. Zaman prasejarah sering juga disebut  zaman batu tua atau  manusia  purba. Pada zaman ini manusia telah mampu menciptakan konsep tentang alat sebagai  perkakas untuk keperluan kehidupan manusia hal ini menunjukkan telah  ada pemikiran menuju arah  ilmu pengetahuan pada  masa ini manusia. Kemudian  pada masa ini mereka sudah mampu memelihara tanaman dan hewan liar  hingga menjadi hewan dan tanaman  yang kualitasnya sesuai serta memenuhi kebutuhan manusia.6
  2. Zaman sejarah. Zaman sejarah disebut juga dengan zaman batu muda atau zaman peradaban dan pertanian. Pada masa ini manusia ini manusia telah mempunyai  kemampuan menulis, membaca dan menghitung sehingga setiap peristiwa dapat dicatat  dan dapat memperkecil  kesalahan. Di zaman ini telah dapat  memasyarakatkan  pengetahuan  secara luas walaupun disampaikan lisan. Kemajuan pengetahuan terlihat pesat  dengan bukti lahirnya kerajaan-kerajaan besar seperti Mesir, Babilonia dan juga kerajaan-kerajaan lain yang lahir di India dan Cina. 
  3. Zaman logam. Zaman logam ini masuk kategori kebudayaan klasik. Pada masa ini perkembangan ilmu lebih pesat lagi, yaitu telah ditemukannya logam yang diolah sedemikian rupa menjadi sebuah perhiasan yang indah dan mahal harganya. Kemampuan yang tinggi, kemudian dipakai  untuk hal-hal diabadikan dalam bentuk patung yang sekarang  masih tersimpan dalam museum, bernilai artistik tinggi, misalnya patung nefertili, istri  raja Fir’aun di Mesir. 
  4. Zaman Yunani dan Romawi. Perkembangan know how di masa ini tingkatannya lebih  maju dari zaman sebelumnya. Pengetahuan empiris berdasarkan sikap receptive attitude mind, artinya bangsa Yunani  tidak dapat menerima empiris  secara  pasif reseptif karena mereka memiliki jiwa  an inquiring attitude
  5. Filsafat ilmu pada masa islam. Ilmu pengetahuan dan teknologi  lahir dari kandungan islam yaitu menemukan metode ilmiah menjadi kunci rahasia pembuka rahasia alam yang jadi perintis  modernisasi eropa dan Amerika. Percobaan-percobaan yang dilakukan dalam dunia islam mirip dengan percobaan trial  and erorr untuk membuat logam emas yang sangat berharga lahirlah metode kimia (alkimia) dan penemuan dalam kedokteran ialah salmak dari sini lahirlah pemikir – pemikir  dalam islam seperti Ibnu Sina Ibnu Rusd, al-Rasi.
  6. Filsafat ilmu pada  abad kegelapan, pada masa ini  bangsa Romawi lebih sibuk dengan masalah-masalah keagamaan yang terus mempelaari dosa dan bagaimana cara menghapuskannya. Bangsa Romawi pada masa ini tidak memperhatikan soal pengetahuan  dan soal duniawi  sehingga kerajaan romawi runtuh maka  masa ini dikenal sebagai  masa kegelapan. 
  7. Filsafat  ilmu pada abad ke 18 dan 19 . pada masa ini kecepatan perkembangan ilmu pengetahuan  pada abad-abad berikutnya sangat menakjubkan, Ilmu pengetahuan empiris makin mendominasi ilmu pengetahuan. Penemuan-penemuan pada akhir abad 18  di dominasi oleh  pengetahuan dibidang fisika.

Definisi Filsafat ilmu

Defenisi  filsafat  Ilmu

Defenisi   filsafat  ilmu tidak terlepas dari kata filsafat dan ilmu  filsafat adalah berfikir secara mendalam tentang sesuatu tanpa melihat dogma dan agama dalam mencari kebenaran sedang ilmu adalah pengetahuan tentang suatu bidang(pengetahuan) yang disusun secara bersistem menurut metode-metode tertentu, yang dapat digunakan  untuk menerangkan gejala-gejala tertentu dibidang itu. Sebagaimana yang di rumuskan para ahli  Sebagaimana yang dikutip A. Susanto dalam Filsafat Ilmu  sebagai  berikut  : 
  1. Menurut  Berry  Filsafat  Ilmu  adalah penelaahan tentang  logika intern  dan  teori – teori  ilmiah  dan  hubungan – hubungan   antara  percobaan  dan teori,  yakni tentang  metode  ilmiah. Bagi  Berry, filsafat  ilmu  adalah  ilmu  yang  di pakai  untuk menelaah  tentang  logika, teori – teori  ilmiah  serta  upaya  pelaksanaannya  untuk  menghasilkan suatu metode atau  teori  ilmiah.[1] 
  2. May  Brodbeck, Filsafat  ilmu  adalah suatu  analis netral  yang  secara  etis  dan  falasafi, pelukisan  dan penjelasan  mengenai  landasan – landasan  ilmu  menurut  Brodbck, ilmu  itu  harus  bisa  menganalisis, menggali, mengkaji  bahkan melukiskannya  sesuatu  secara  netral , etis  dan filosofis  sehingga  ilmu  itu  bisa di  manfaatkan secara  benar dan relevan. 
  3. Lewis  White Filsafat  ilmu  atau  philosophy  of science  adalah  ilmu  yang  mengkaji  dan  mengevaluasi  metode – metode  pemikiran  ilmiah  serta  mencoba  menemukan dan pentingnya  upaya  ilmiah  sebagai  suatu  keseluruhan.Lebih jauh   Lewis menjelaskan   Filsafat  ilmu  adalah  ilmu  yang mempertanyakan  dan  menilai  metode – metode pemikiran  ilmiah  serta  mencoba menetapkan  nilai  dan pentingnya  usaha  ilmiah  sebagai  suatu  keseluruhan. Melalui  filsafat  ilmu  ini  kita  akan mampu  memahami  dan menetapkan  akan  arti  pentingnya  usaha  ilmiah, sebagai  suatu  keseluruhan
  4. A. Cornelius  Benyamin, mengemukakan  bahwa filsafat  ilmu  adalah  studi  sistematis  mengenai  sifat  dan  hakikat  ilmu, khususnya  yang  berkenaan  dengan  metodenya,  konsepnya, kedudukannya  di  dalam skhema umum  disiplin intelektual. Benyamin lebih melihat  sifat  dan hakikat  ilmu  ditinjau  dari  aspek  metode, konsep, dan kedudukannya  dalam disiplin keilmuan.
  5. Robert  Ackermann filsafat  ilmu  adalah sebuah  tinjauan  kritis tentang  pendapat – pendapat  ilmiah  dewasa  ini dengan perbandingan  terhadap  pendapat – pendapat  lampau  yang  telah dibuktikan  atau  dalam  rangka  ukuran – ukuran  yang  dikembangkan   dari  pendapat – pendapat  demikian itu, tetapi  filsafat  ilmu  demikian  jelas  bukan  suatu  cabang  ilmu  yang  bebas  dari  praktik  ilmiah senyatanya .[2] 
  6. Peter  Caw filsafat  ilmu  adalah suatu  bagian  filsafat  yang  mencoba  berbuat  bagi  ilmu  apa  yang  filsafat  umumnya  melakukan  pada  seluruh  pengalaman  manusia. Filsafat  melakukan dua  macam  hal di satu  pihak, ini  membangun teori – teori  tentang  manusia dan  alam  semesta, dan menyajikannya  landasan  bagi  keyakinan  dan tindakan  di pihak  lain, filsafat  memeriksa  secara kritis  segala  hal  yang  dapat  disajikan sebagai  suatu  landasan bagi  tindakan termasuk  teori – teori nya  sendiri dengan  harapan dan penghapusan tidak  ajegan   dan  kesalahan. Caw  yakin bahwa  melalui  filsat  ilmu seseoang  membangun  dua  hal, menyajikan  teori  sebagai  landasan  bagi  keyakinan  tindakan  dan memeriksa  secara  kritis  segala  sesuatu  sebagai  landasan  bagi  sebuah  keyakinan  atau  tindakan. 
  7. Alfred  Cyril  Ewing  Filsafat  ilmu  menurutnya  adalah salah  satu  bagian  filsafat  yang  membahas  tentang  logika, di  mana  di dalamnya  membahas tentang  cara yang  di khususkan  metode – metode  dari  ilmu – ilmu  yang  berlainan . Lebih  lanjut menjelaskan tanfa  penguasaan  filsafat  ilmu, maka akan   sulitlah  seseorang  dalam  usahanya  untuk  memahami  tentang  ilmu  secara   baik  dan  profesional. 
  8. The Liang  Gie  Merumuskan  Filsafat  ilmu  merupakan  segenap pemikiran  reflektif  terhadap  persoalan – persoalan  mengenai  segala  hal  yang  menyangkut  landasan  ilmu  maupun  hubungan  ilmu  dengan  segala  segi  kehidupan  manusia. Bagi Gie, filsafat  ilmu  bukan  hanya  di  pahami  sebagai  ilmu  untuk  mengetahui  metode  dan analisis  ilmu – ilmu  lain, tetapi  filsafat  ilmu  sebagai  usaha  seseorang  dalam  mengkaji  persoalan – persoalan  yang  muncul  melalui  perenungan  yang  mendalam agar  dapat  diketahui  duduk  persoalannya   secara  mendasar  sehingga  dapat  di manfaatkan  dalam  kehidupan  manusia.
  9. Menurut  Beerling, filsafat ilmu  adalah  penyelidikan  tentang  ciri – ciri  mengenai  pengetahuan  ilmiah  dan  cara –  cara  untuk  memperoleh  pengetahuan tersebut. Filsafat  ilmu  erat  kaitannya  dengan  filsafat  pengetahuan atau  epistemologi  yang  secara  umum  menyelidiki  syarat –  syarat  serta  bentuk  bentuk  pengalamn  manusia juga  mengenai  logika  dan  metodologi. [3]
  10. Jujun  S, Suriasumantri  menjelaskan  bahwa  filsafat  ilmu  merupakan  suatu pengetahuan  atau  epistemologi  yang  mencoba  menjelaskan  rahasia  alam  agar  gejala  alamiah  tak  lagi  merupakan  misteri, secara  garis  besar, Jujun  menggolongkan pengetahuan  menjadi  tiga  kategori  umum, yakni  1) pengetahuan  tentang  yang  baik dan  yang  buruk  yang  disebut juga  dengan  etika  2) pengetahuan tentang  indah  dan jelek,  yang  disebut  dengan estetika  atau  seni   3)  pengetahuan  tentang  yang benar  dan salah, yang  disebut  dengan  logika.[4] 
Lebih  lanjut  Jujun S menjelaskan filsafat  ilmu merupakan  bagian dari epistemologi  (filsafat pengetahuan) yang  secara spesifik  mengkaji hakikat  ilmu (pengetahuan ilmiah) Ilmu  merupakan  cabang  pengetahuan   yang mempunyai  ciri –  ciri  tertentu. Meskipun  secara  metodologis  ilmu  tidak  membedakan antara  ilmu ilmu alam  dengan ilmu sosial, namun karena permasalahan – permasalahan teknis  yang  bersifat  khas, maka filsafat  ilmu  ini sering  dibagi menjadi  filsafat  ilmu – ilmu sosial. Pembagian  ini lebih  merupakan pembatasan  masing – masing   bidang  yang  ditela’ah, yakni ilmu – ilmu alam atau  ilmu – ilmu  sosial  dan  tidak  mencirikan  cabang  filsafat  yang  bersifat otonom, ilmu memang  berbeda  dari  pengetahuan – pengetahuan  secara  filsafat, namun tidak terdapat  perbedaan  yang  prinsif antara  ilmu – ilmu  alam  dan ilmu – ilmu  sosial  dimana  mempunyai  ciri – ciri  keilmuan  yang  sama.
Beberapa  pendapat  lain mengenai  pengertian filsafat ilmu seperti  yang dijelaskan H. Endang  Komara dalam buku filsafat ilmu dan metodologi  penelitian seperti  yang  di jelaskan berikut : 
  1. Robert ackman filasafat ilmu dalam suatu segi tinjauan  krtis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa  ini dengan perbandngan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari – pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktik ilmiah secara  aktual. 
  2. Michael V. Berry  filsafat  ilmu penelaahan tentang logika intern dari teori-teori ilmiah  dan hubungan-hubungan anatara percobaan dan teori yakni tentang metode ilmiah
  3. May Brodbeck  filsafat  adalah : analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu.
  4. Stephen R. Toulman filsafat ilmu adalah sebagai suatu  cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbincangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, peranggapan-peranggapan metafisis  dan seterusnya menilai landasan-landasan bagi kesalahnnya dari sudut tinjauan logika formal, metodologis praktis, dan metafisika.[5] 
Berdasarkan beberapa pendapat  para  ahli diatas  dapat disimpulkan  bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan  yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, baik ditinjau dari segi ontologis, epistemologis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik  mengkaji  hakikat ilmu